Garis yang Bersinggungan

Jadi, ini adalah cerita tentang bagaimana semesta mempertemukanku dengan seseorang yang tidak kusangka akan kusayangi dengan begitu besar.

Oke, sebelumnya aku akan bercerita sedikit tentang diriku. Aku ini tipe orang yang hanya punya sedikit teman dekat saja. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan mereka semua perempuan. Lucunya, aku yang sudah berumur seperlima abad ini dari lahir nggak pernah punya teman dekat laki-laki. Paling hanya sebatas kenal dan tahu nama saja. Nggak tahu apa sebabnya, tapi mungkin aku terlalu tertutup atau gimana hingga seperti ada tembok tinggi yang membatasiku dengan laki-laki. Dan mereka enggan merobohkan tembok itu, pun aku. Sebenarnya, ada cerita dibalik tembok yang aku buat. Tapi aku tidak mau membahasnya. Intinya, tembok ini yang selama ini menghalangiku/mengahalangi mereka yang ingin mengenalku lebih dekat.

Jadi, aku mengenalnya dari sebuah aplikasi chatting. Aku dulu memang sering banget ikut komentar di berbagai account yang kontennya itu entah lucu, haru, atau sedih. Aku enggak tahu awal mulanya ini dari mana, tapi tiba-tiba saja nama dia muncul di daftar request friend-ku. Entah apa yang merasukiku (jangan nyanyi yah wkwk) tanganku udah klik accept aja. Jadilah kita berteman. Hari demi hari kita nggak saling coba menyapa. Sampai akhirnya dia menyapaku duluan dengan "Hai".

Waktu itu pesannya aku abaikan karena aku menyangka dia orang asing yang biasalah, iseng. Hingga seingatku tiga pesan dia kirimkan, masih sama kata-katanya dengan pesan pertama. Aku mulai jengah dan kukatakan dalam hati 'oke lah. Balas aja siapa tahu memang ada perlu'. Kubalas lah pesannya hanya dengan satu kata, "hai".

---to be continued---

Komentar